Sabtu, 01 Juni 2013

Berdiam?

Satu hal yang beberapa kali terjadi dalam kehidupan saya. Masalah kesehatan di pertengahan tahun. Klo kata ustadz, sakit itu tanda sayang Allah kepada hamba-Nya, diberikan fasilitas menggugurkan dosa. Ya,  saya memang sedang banyak dosa. Saya pun menjadi Pengajar Muda pertama kabupaten Majene yang  durasi sakitnya cukup lama. Rasanya hati berat mengikhlaskan untuk mendapatkan status sakit dan harus pulang, karena banyak kerja yang harus ditinggalkan sementara. Tentu saja yang paling berat bagi Pengajar Muda adalah meninggalkan anak-anak didiknya.

Satu minggu sudah saya di kota kelahiran saya, Depok. Enam setengah bulan di daerah terpencil membuat mata saya benar-benar terbuka. What an egoistic people was i am. Kita makhluk kota. Hidup dengan segala ketersediaan yang ada. Bekerja untuk diri sendiri, menghabiskan air bersih yang sebenarnya hanya berjumlah 3% dari seluruh air yang ada di Bumi, menghabiskan energi listrik setiap harinya untuk berbagai keperluan termasuk bermain games di berbagai platform, mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang lengkap, dan menikmati keterbukaan informasi lewat berbagai media yang ada. Sementara di seberang pulau sana? Saya tidak menyalahkan kondisi ini dinikmati oleh orang-orang kota. Tetapi yang jadi pertanyaan, apakah kita sebagai entitas terdidik tidak bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat di desa-desa terutama desa terpencil? Atau setidaknya membangun daerah-daerah "tertinggal" di pinggiran kota kita?

Jika berbicara tentang gerakan Indonesia Mengajar (IM), tentu merupakan salah satu gerakan yang "berbuat sesuatu" diantara gerakan-gerakan lain dari kelompok-kelompok lain. Saya gembira dan tidak terlalu peduli masalah ketulusan individu ataupun kelompok yang menjalani hal ini, setidaknya setiap kelompok yang bergerak di bidang wirausaha sosial ini sudah bergerak. Saya pribadi pun mengenal keluarga besar IM sebagai sekelompok orang yang melakukan tugas sosial super manusiawi dengan sangat profesional selayaknya korporasi besar yang sedang mengejar untung besar. IM tidak berniat menyelesaikan semua masalah pendidikan, tetapi IM mencoba mengambil tantangan yang tersulit untuk diselesaikan. Kerja sendiri? tidak, prinsip kerjanya adalah menggerakan aktor lokal di daerah sasaran. IM menjadi salah satu indikator bahwa negara ini masih punya harapan. Gerakan ini pun melahirkan gerakan-gerakan komplemen atau duplikat lainnya semisal Indonesia Menyala, SM3T, Anak Sabang Merauke, Pencerah Nusantara, dan gerakan sosial lain yang belum saya tahu tentunya.

Berbicara tentang harapan, tentu saja harapannya sangat besar. Saya mengenal hal-hal super lainnya semisal wirausaha jilbab yang memberdayakan para mantan penderita kusta sebagai salah satu contoh wirausaha sosial, ada berbagai lembaga amil zakat (semisal rumah zakat) yang bergerak menghimpun dan menyalurkan dana umat, berbagai lembaga yang bergerak di bidang peningkatan kualitas SDM dan pendidikan karakter, keberadaan partai dakwah di tengah-tengah kehidupan politik yang belum dewasa, dan berbagai fenomena yang menyebarkan atmosfir perubahan positif. Tentu ini sangat menggembirakan, rugi rasanya jika hidup hanya untuk sendiri dan melewatkan kesempatan berbahagia karena telah membuat orang lain menjadi bahagia. Masih mau berdiam?

Read More

Rabu, 01 Mei 2013

Makan - Makan Akhir Semester

Pembagian buku rapor semester 1 tahun ajaran 2012/2013 telah selesai dilaksanakan. Pembagian rapor di dusun sedikit berbeda dengan pembagian rapor di kota. Kalau di kota yang menerima adalah orang tua, maka kalau di dusun yang menerima adalah siswa itu sendiri.  Tentu Anda akan bertanya kenapa hal itu terjadi. Jawabannya sederhana, di dusun saya mayoritas orang tua tidak  lancar membaca apalagi menulis. Jadi percuma juga jika orang tuanya yang menerima rapor mereka.

Selepas menerima rapor, siswa dan orang tua mereka mengajak kami berjalan ke sungai yang dekat dengan “perusahaan”. “Perusahaan” adalah nama untuk sebuah daerah yang sempat digarap sebuah perusahaan kontraktor yang pernah berjanji kepada warga dusun, apabila mereka diperbolehkan bekerja mengeruk batu-batu di daerah perbukitan dekat dusun, mereka akan membangun jalan ke dusun. Pada kenyataannya perusahaan tersebut tidak pernah menepati janjinya dan sempat diamuk masyarakat dusun. Akhirnya lahan kerja mereka menjadi sebuah lapangan batu-batuan berpasir diantara dua bukit dan disebut sebagai “perusahaan”.

Saya cukup heran tentang satu hal. Guru honorer di SD saya yang bernama Bu Umi biasanya untuk acara-acara begini sangat enjoy seketika menghilang setelah kami selesai makan siang ala piknik bersama para orang tua. Ternyata memang ada suatu hal, setelah makan, murid-murid berbondong-bondong mengambil air ke sungai dengan segala perangkat penampung air yang mereka punya untuk diguyurkan ke guru-guru mereka. Terlambat, hal-hal seperti ini memang tidak pernah diceritakan ke saya. Padahal baju saya sudah rapih ala orang mau berangkat kerja, tetapi sepertinya harus menjadi korban pelepasan penat anak-anak yang baru terima rapor.

Yah saya pun menyerah pada nasib, menitipkan kamera, kemeja, dan dompet sehingga siap untuk diguyur.  “Byur...”, senang sekali mereka karena berhasil mengguyur saya, terpaksa saya ikut nyebur juga ke sungai menyerang balik mereka dengan guyuran bermodal tempat makan rampasan dari murid saya. Enak saja mereka mengguyur gurunya tanpa balas diguyur.  Hehe. Semua guru terlibat, kecuali ibu-ibu guru, sudah pada menghilang bersama angin yang berhembus, alias kabur.

Kami pun berjalan pulang menyusuri sungai sambil terkadang menyebrangi sungai. Anak-anak pun meneriakan semacam yel yang cukup menggelitik saya. “Siapa suka diajari sama Pak Fajar?” teriak salah satu murid kelas VI, Ical. Semua murid lain yang sedang berjalan pulang bersama pun menjawab “Saya!!”. Mereka memang pintar sekali merayu guru mereka di saat-saat seperti ini, banyaknya yel-yel sejenis yang mereka lontarkan membuat saya serasa Fir’aun kecil. Hehe.


Ical yang sedang berteriak Yel ala Fir'aun :D

Akhirnya basah kuyup.

Pak Amrin (wali kelas 5) dan murid-murid

Pak Amrin (wali kelas 5), Pak Juki (wali kelas 6) dan murid-murid bersorak sorai

Read More

Minggu, 21 April 2013

Bukan Cerdas Cermat

Suasana Pertandingan Cerdas Cermat
Ketika bermalam di rumah Pak Juki, saya dapat kabar dari anak-anak sekolah yang ada di Masjid Ainul Yaqin bahwa esok hari sebuah acara cerdas cermat akan dilaksanakan. Pelaksananya adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari salah satu Universitas di Propinsi Sulawesi Barat. Sebenarnya mereka sudah mengabarkan sekitar satu bulan lalu tentang lomba ini. Wilayah kerja mereka memang hanya Desa Salutambung dan di Desa Salutambung hanya ada dua SD yakni SDN 27 Tatibajo dan SDN 10 Salutambung.

Kami para guru SDN 27 Tatibajo dan guru SDN 10 Salutambung diminta oleh panitia membuat soal untuk pertandingan cerdas cermat. Sayang pada akhirnya soal dari SD kami (SDN 27 Tatibajo) banyak yang tidak diambil karena ternyata banyak guru yang tidak mencantumkan kunci jawaban. Semula saya bingung, kenapa soal dari SDN 10 Salutambung diberikan panitia kepada kami (SDN 27 Tatibajo). Ternyata soal tersebut ditukarkan ke kedua SD. Kepala sekolah saya pun meminta saya untuk melatih tim cerdas cermat yang akan bertanding dengan bermodal soal tersebut.

Saya pun melatih mereka. Salah satu cara saya melatih mereka pada pelajaran Matematika, saya membuat soal yang mirip dengan yang ada di soal edaran dan memberikan soal tersebut dengan sajian cerdas cermat juga. Sebenarnya dengan cara ini pun saya merasa jadi orang yang curang, karena sudah tahu model soalnya seperti apa. Akhirnya karena lelah, pada pelajaran lain, soal saya sajikan dengan cerdas cermat pula tanpa perubahan apapun. Pada saat itu saya merasa telah menjadi orang yang curang karena sudah tahu soal yang akan dilombakan dan malah saya menyimulasikannya duluan di depan murid saya. Saya merasa sudah mengkhianati komitmen saya sendiri dalam hal melaksanakan apa pun dalam hidup saya dengan nilai kejujuran.

Sebelum pertandingan berlangsung, ada isu bahwa guru di SDN 10 meminta soal dan jawabannya dihafalkan oleh para siswa yang akan berlomba. Saya tidak mengindahkan isu ini, saya pikir kalaupun menang dengan cara seperti itu tidak seperti lomba cerdas cermat, tetapi menang lomba menghafal. Kalau memang tujuannya menguji kecerdasan siswa, bukankah cara ini tidak tepat? Ya saya pikir saya juga berada di jalan yang tidak lurus juga, karena sudah tahu soal yang akan keluar juga. Hanya saja saya tidak serta merta meminta siswa saya yang akan berlomba untuk menghafalnya, melainkan melatih mereka menjawab soal tersebut dengan sajian ala cerdas cermat juga.

Waktu pun berlalu, salah satu siswa yang menjenguk Pak Juki adalah peserta lomba Cerdas Cermat. Namanya Aidin, saya meminta Aidin untuk tidak lagi masuk ke dusun dan mencari pinjaman seragam saja di pinggir. Salah satu siswa peserta lain memang tinggal di pinggir, namanya Nurjayanti. Saya langsung meminta salah rombongan kunjungan jenguk untuk mengirim utusan mengabari Nurjayanti tentang hal ini. Akhirnya sisa peserta yang masih ada di dusun akan saya dan Pak Amrin (salah seorang guru di sekolah) jemput esok pagi hari.

Dipagi hari aku pun langsung mencari pinjaman seragam untuk Aidin. Aku mencari pinjaman dari sanak keluarganya Bu Juki yang mungkin punya baju seragam yang sedang tidak dipakai dan juga mencarinya di rumah kepala sekolah. Ibu istri kepala sekolah pun turut mencarikan pinjaman seragam dari rumah sanak keluarganya. Kebetulan untuk seragam putih sudah didapat dari salah satu anak Pak Juki. Bu Kepala Sekolah sedang mencarikan pinjaman celana seragam merah. Dua celana pun terkumpul di rumah kepala sekolah, namun ternyata celana yang mau dipinjamkan terlalu kecil untuk Aidin. Begitu pula milik anak Pak Juki, celananya kekecilan. Sampai akhirnya Bu Juki menemukan celana milik keponakannya yang cocok untuk Aidin.

Semua peserta pun telah terkumpul di rumah Pak Juki dan kami siap berangkat ke lokasi perlombanan SDN 10 Salutambung. Sesampai di sana panitia telah menunggu. Anak-anak pun memasuki kelas tempat perlombaan. Lomba belum dimulai karena belum semua tokoh yang ditunggu datang di lokasi. Akhirnya pun saya memutuskan untuk pergi sejenak ke Masjid terdekat untuk sholat dhuha. Selesai sholat dhuha saya kembali ke tempat perlombaan dan ternyata malah saya yang ditunggu panitia sehingga lomba belum dimulai. Hehe saya jadi merasa tidak enak.

Setelah itu seorang pembawa acara (MC) pun membacakan tata tertib cerdas cermat dan pengundian amplop soal pun dimulai. SDN 27 Tatibajo terdiri dari dua tim, anggota tim yang pertama antara lain Arif siswa kelas V, Aidin siswa kelas VI, dan Nurjayanti siswa kelas IV. Anggota tim yang kedua antara lain, Perni kelas IV, Ical kelas VI, dan Sugiono kelas V. Cerdas cermat terdiri dari dua babak, babak yang pertama adalah babak pertanyaan bergilir, sedangkan yang kedua adalah babak pertanyaan rebutan. “Babak pertanyaan bergilir akan dimulai, amplop nomor satu akan saya dibuka buka. Amplop masih dalam keadaan tersegel” ucap MC kepada seluruh peserta dan penonton sambil menunjukan keadaan amplop yang masih utuh. Seputar soal yang dibuat kedua belak sekolah, sudah jauh hari panitia menyampaikan kepada kepala sekolah bahwa soal dari SDN 27 Tatibajo tidak digunakan oleh panitia karena banyak guru yang tidak mencantumkan kunci jawaban.

Lalu bergulirlah pertanyaan tiap pertanyaan kepada tim A dari SDN 10 Salutambung. Saya pun terkaget karena ternyata soal yang dibacakan sama persis dengan soal yang diberikan ke setiap sekolah. Saya pun berbisik pada MC bertanya “Apakah dari panitia tidak membuatkan soal untuk lomba ini?”, lalu panitia menggelengkan kepala. Hal yang lebih membuat saya kaget adalah jawaban dari tim A hampir tidak ada yang salah. Lalu amplop berikutnya pun dibuka dan dibacakan untuk tim B dari SDN 27 Tatibajo. Sebenarnya sewaktu saya melatih murid-murid saya memang sudah ada beberapa nomor soal yang bisa dijawab oleh mereka. Biasanya seputar agama Islam seperti nama malaikat yang bertugas membagikan rejeki ataupun nama kitab-kitab Allah. Pada lomba pun yang bisa mereka jawab adalah soal-soal tersebut, sedangkan soal-soal yang lain sepertinya mereka lupa jawabannya apa.

Ada beberapa jawaban lucu yang terceletuk dari murid saya. Salah satunya jawaban Ical. Ketika ditanya “Apakah kepanjangan dari lembaga yang bernama KPK?”, murid saya terdiam sejenak, berpikir menerawang lalu menjawab “Kelipatan Persekutuan Terkecil!”. Dalam hati saya tertawa, sekaligus sedih, tertawa karena jawaban murid saya dan sedih karena dalam sudut pandang saya pertanyaan seperti ini belum saatnya anak-anak seusia mereka mengerti. Hal-hal seperti KPK bagi saya terlalu rumit untuk dijelaskan kepada anak-anak seusia mereka. Pertanyaan pun dilempar kepada tim C dan mereka bisa menjawabnya, saya pun tidak tahu apakah tim C hanya hafal kepanjangannya atau juga paham apa itu KPK.

Jawaban menyelekit lainnya adalah ketika Aidin murid SDN 27 Tatibajo di tim D menjawab pertanyaan “Apakah sebutan untuk tempat menjaga pada sistem keamanan keliling?”, dia menjawab “Pos Ronda”. Sebenarnya yang diharapkan panitia adalah jawaban “Pos Kamling”, tetapi menurut saya jawaban dia memiliki arti yang sama. Panitia pun membenarkan. Kenapa ini menjadi pertanyaan menyelekit bagi saya adalah karena kabupaten Majene adalah kabupaten paling aman yang pernah saya tinggali, wajar jika di sini jarang ada Pos Kamling, sehingga benda tersebut menjadi suatu hal yang abstrak bagi murid-murid di sini. Beruntung Aidin pernah tinggal di Sangata, Kalimantan, mungkin dia tahu dari tempat tinggal ia di sana.

Pada giliran selanjutnya peserta tim D dari SDN 10 bisa menjawab semua pertanyaan, bahkan ketika baru dua kata dari kalimat tanya dibacakan MC, mereka sudah bisa jawab. Saya tahu mereka pasti menghafal, karena jika tidak, mana mungkin pertanyaan-pertanyaan sulit bisa dijawab sebegitu mudahnya. Kami memang kalah telak, beda skor mencapai lebih dari 1500 dengan satu pertanyaan bernilai 100, tetapi saya pribadi bersyukur karena akhirnya saya tidak perlu menang pada kompetisi menghafal jawaban seperti ini. MC memang berkata setiap kali membuka amplop soal bahwa amplop tersegel, tetapi sepertinya kawan-kawan panitia lupa bahwa cerdas cermat itu untuk menguji wawasan siswa, bukan untuk menguji kemampuan siswa menghafal jawaban. Jangan sampai nilai-nilai negatif mencederai pendidikan anak-anak bangsa. Selalu hati-hati terhadap apa yang kita ajarkan kepada generasi masa depan Indonesia.

Read More

Rabu, 13 Maret 2013

Guru dari Gunung

Pak Juki adalah seorang guru berumur 40 tahun, tidak terhitung muda, tetapi juga belum terlalu tua. Pak Juki berasal dari Taukong, sebuah dusun yang berada di gunung. Bukan sekedar gunung, perjalanan ke sana bisa memakan waktu 8-12 jam jika berjalan kaki, tergantung dari stamina sang pejalan kaki. Sekarang pun, ketika jalan sudah ada dan orang ingin menggunakan motor menuju Taukong harus dilakukan berdua, karena kondisi jalan yang meminta sang pembawa motor untuk mendorong motornya sambil di-gas di beberapa titik perjalanan.

Sejak kecil Pak Juki memiliki keinginan belajar yang keras. Biasanya anak-anak gunung yang rajin belajar ketika masuk SMP akan dikirim ke Malunda, sebuah kecamatan yang berada di Jalan Raya Poros (Jalan Raya Trans-Sulawesi) dan titipkan pada orang yang tinggal di sana untuk bersekolah. Hal seperti ini pun dialami oleh Pak Juki, beliau merantau ke pinggir (sebutan lain untuk Jalan Raya Poros) meninggalkan dusun dan tinggal bersama orang lain untuk menempuh pendidikan di SMP.

Kini Pak Juki sudah mengenyam pendidikan hingga tamat S1 jurusan Pendidikan Guru SD dan sudah 15 tahun Pak Juki mengajar di tingkat Sekolah Dasar (SD). SDN 27 Tatibajo merupakan tempat Pak Juki bertugas saat ini, begitu pula dengan saya. Saat ini beliau adalah wali kelas 6 sementara saya mengajar Matematika di kelas 4,5, dan 6. Sebelum berada di Tatibajo, Pak Juki bekerja sebagai guru Matematika di SDN 10 Salutambung. Empat SD telah disambangi oleh beliau, tiga diantaranya adalah SD yang terletak di pinggir. Beberapa tahun terakhir Pak Juki sedang mengalami sakit lambung yang cukup membuat beliau kerepotan. Hal ini kemungkinkan disebabkan kesibukannya dalam bekerja yang sering membuatnya telat makan. Bukan hanya kerja sebagai guru yang membuat Pak Juki memiliki kesibukan yang tinggi, tetapi juga posisi sebagai bendahara penggajian guru sekecamatan Malunda dan Ulumanda.

Penyakit pencernaan kerap kali menjadi “wabah” karena adanya budaya memakan mi instan yang dengan air panas lalu diberikan bumbu. Mi di daerah Mandar (sebutan untuk daerah Sulawesi Barat) telah dianggap seperti sayur. Kalau tidak ada sayur menyiram mi pun jadi. Hipotesis saya sebagai orang awam menganggap budaya inilah yang menyebabkan banyak orang yang pencernaannya kurang sehat, karena seperti yang kita tahu jika mi hanya disiram akan masih banyak bahan pengawet yang tertinggal di kuahnya dan termakan oleh konsumen dari “masakan khas” Mandar tersebut.

Suatu saat sakit yang dimiliki oleh Pak Juki kambuh. Beberapa siswa di kelas enam bersikeras untuk mengunjungi. Padahal mereka tahu bahwa untuk ke rumah Pak Juki terletak di pinggir sehingga mereka harus berjalan sekitar 4 km atau sekitar 1 jam 30 menit. Namun, hujan deras yang diselimuti hawa dingin beberapa hari ini kerap mengunjungi dusun dan sepanjang jalan menuju jalan Poros sehingga memaksa kami menunda keberangkatan sampai keadaan cuaca membaik. Akhirnya di suatu sore yang lembab setelah hujan turun, saya dan tujuh orang siswa berangkat menuju pinggir. Kami berangkat pukul 16:30 WITA.

Pemandangan pegunungan sore hari dikelilingi hutan lebat dan jurang bersungai yang mengiringi sepanjang perjalanan kami menjadi suguhan perjalanan yang jarang sekali dinikmati orang kota seperti saya. Stamina anak-anak gunung memang tak pernah habis, 1 jam berlalu saya sudah mulai merasa ingin berhenti sejenak dan menenggak beberapa teguk air segar. Namun apa daya, saya lupa bawa air dan juga masih ingin menjaga imej bahwa saya masih kuat jalan. Haha, itulah repotnya jadi guru, jadi banyak jaim. Air terjun yang mengalir kecil akibat adanya hujan pada waktu sebelum kami berangkat turut menghiasi perjalanan kami. Akhirnya sesuai perkiraan waktu perjalanan, kami pun tiba di pinggir sekitar jam 18:00 WITA. Langit yang berwarna oranye, lampu-lampu rumah yang mulai menyala, serta azan Maghrib menyambut kami di pinggir.

Kami pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah terlebih dahulu di masjid Ainul Yaqin, sebuah masjid yang terletak di pinggir. Sekedar pengetahuan tambahan, ada sebuah tantangan unik mengenai sanitasi di desa Salutambung, desa yang menjadi tempat berkembanganya dusun Tatibajo. Biasanya sebagus apapun masjid ataupun rumah belum tentu ada WC-nya. Termasuk di masjid ini. Padahal gedung masjidnya tidaklah buruk. Jika ada sebuah rumah yang ada WC-nya itu menandakan penghuninya adalah orang yang berpendidikan dan mengerti tentang pentingnya sanitasi yang baik. Apalagi di dusun, jangan ditanya orang buang air besar di mana, karena tak lain dan tak bukan hal tersebut dilakukan di WC terpanjang yang pernah saya lihat selama hidup saya alias sungai.

“Allahu Akbar!” takbirotul ihrom pun dikumandangkan sang Imam, saya dan anak-anak segera bergabung di barisan makmum. Selepas sholat maghrib kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Pak Juki. Rumah tersebut terletak sekitar 250 meter dari masjid tersebut. Sesampai di sana kami pun melemparkan salam dari depan pintu rumah ke dalam rumah “Assalamu’alaikum!” salam kami. Tak lama kemudian sesosok pria berbadan tidak begitu tinggi pun keluar. Senyumnya menyimpul ketika melihat kami dan langsung mempersilahkan kami untuk duduk di ruang tamunya. Sosok Pak Juki terlihat sudah lebih sehat jika dibandingkan beberapa hari lalu saya berkunjung ke rumahnya. Pada saat itu wajahnya masih pucat, tetapi kini sudah terlihat lebih segar.

Setelah saya berjabat tangan dengan Pak Juki serta anak-anak bergantian mencium tangan guru mereka, kami duduk di kursi ruang tamu. “Bagaimana Pak kabarnya?” tanyaku membuka pembicaraan, “Alhamdulillah sudah lebih baik” jawabnya. Sesaat kemudian istri dari Pak Juki yang juga seorang guru keluar menyapa kami, “Oh, ada murid-muridnya Pak Juki, dari Tatibajo naik apa ki?” tanya Bu Juki dengan dialek Makassar, “Kami berjalan kaki Bu” jawabku, “Wah jauh sekali itu, ya sudah kalau begitu, bermalam saja”, setelah sejenak berpikir, aku mengangguk menyetujui bermalam di sini karena murid-muridku pasti lelah dan tidak baik kembali ke dusun dalam keadaan gelap dengan berjalan kaki.

Orang Mandar memiliki ciri khas yang menurut saya istimewa. Selama berada di sini, kami para Pengajar Muda selalu disambut oleh masyarakat Mandar dengan keramahan yang luar biasa. Mereka sangat senang ketika rumah mereka dikunjungi oleh kami. Kunjungan ke rumah dalam bahasa di sini disebut dengan “singgah”. Jika kami singgah hampir menjadi suatu keharusan kami harus makan atau minimal minum di rumah tersebut. Termasuk di rumah Pak Juki, istri dari Pak Juki langsung melesat ke dapur dan sepertinya melihat mengatur strategi untuk menghidangkan makanan ke anak-anak gunung yang baru turun dari sarangnya.

Selepas adzan Isya, hindangan lengkap tersaji, ada ikan, mie goreng (makanan “khas” mandar), telur dadar, tempe, dan bakwan. Tempe merupakan makanan dengan kasta lebih tinggi daripada ayam, hal ini disebabkan masih sangat jarang orang yang bisa membuat tempe di bumi mandar. Anak-anak pun makan dengan lahapnya. Wajar saja penghasilan orang tua mereka tidak memungkinkan mereka memakan makanan mewah seperti yang sedang mereka nikmati sekarang. Setelah makan malam anak-anak asyik menonton TV. Ketiadaan listrik di dusun mereka, membuat mereka selalu antusias ketika ada TV menyala. Inilah keindahan silaturahim ala Mandar, bahagia itu sederhana bagi anak-anak gunung di bumi Mandar. Menonton TV setelah makan malam menjadi hal mewah nan membahagiakan.

Anak gunung dan guru dari gunung menurut saya kombinasi yang fantastis. Semoga semangat belajar sang guru dari gunung bisa menular ke anak-anak ini. Semoga saya bisa mengejar mereka dan membantu guru mereka semaksimal mungkin, sekaligus belajar pula dari kehidupan mereka. Ya, saya hanyalah anak kota yang hidup di dunia yang sangat nyaman dan sekarang sedang mencicipi kehidupan yang sebelumnya tak pernah saya jalani, kehidupan sebagai guru di gunung untuk anak-anak gunung yang penuh dengan bakat terpendam.

Sartika, Harianto, Aidin, Risma (Murid-murid kelas VI) sedang berpose di depan air terjun yang ada ketika baru selesai hujan di perjalanan ke Jalan Poros

Saya dan murid-murid kelas VI di perjalanan menuju Jalan Poros.
Berfoto di ruang tamu rumah Pak Juki. (Pak Juki sedang duduk di kursi memangku anaknya yang bernama Aco)

Read More

Selasa, 05 Februari 2013

Pergantian Pejuang

Matahari yang hangat menyambut datangnya hari Sabtu, 10 November 2012. Pak Arif Pengajar Muda angkatan 3 penempatan Majene berjalan dengan seluruh warga Tatibajo yang mengantarnya menuju jalan Poros. Sebuah jalan raya trans-Sulawesi yang menghubungkan kota-kota di Sulawesi Barat, termasuk Makassar, Mamuju dan tentu saja Majene. Jalan ini akrab disebut sebagai “pinggir”oleh warga dusun. Jalan yang jika dilalui dari Majene menuju Makassar memiliki tak sedikit lubang dan sedang diaspal ulang, akan mengantar salah satu sarjana terbaik bangsa kembali ke kampung halamannya.

Pemandangan indah pegunungan mengiringi perjalanan kami menuju ke pinggir. Angin sepoi sesekali menyapa warga yang sedang mengantar salah satu keluarga mereka selama satu tahun terakhir. Jalan bebatuan menjadi karpet merah yang bersaksi bahwa dalam waktu satu tahun banyak yang telah ditinggalkan oleh Pengajar Muda tersebut, tak terkecuali kenangan di dalam hati mereka. Sungai yang mengalir berbelok-belok seolah menonton iring-iringan manusia yang sedang berjalan ke bawah melalui jalan setapak berbatas jurang dan dinding pasir rawan longsor.

Dua belas bulan, bukan waktu yang terlalu lama tetapi cukup untuk menjadikan seorang manusia sebagai pusat pergerakan perubahan ke arah kebaikan di suatu daerah terpencil. Tempat Pengajian Al-Qur’an, Buku Tabungan Siswa, Rajinnya anak-anak dusun sholat lima waktu, berhasilnya mereka mengkhatamkan (menamatkan) bacaan Al-Quran, serta kekompakan orang tua dalam mengutus anaknya menuntut ilmu di sekolah adalah bukti keberadaan dua Pengajar Muda sebelumnya di dusun Tatibajo, desa Salutambung, kecamatan Ulumanda, provinsi Sulawesi Barat.

Langkah kaki semakin berat seiring dengan jarak berkilo-kilometer yang kami tempuh perlahan dengan menurun dan mendaki menuju pinggir. Tak terasa satu setengah jam kami lalui sampai akhirnya kami tiba di pinggir. Semua masih bersuka cita pada saat itu, kecuali ibu angkat kami (saya dan pengajar muda sebelumnya) yang sudah menangis sejak Pak Arif atau yang lebih sering saya sapa dengan mas Arif menata pakaian dan peralatannya ke dalam tas dan ransel yang akan ia bawa pulang. Sepanjang jalan saya melakukan “pendekatan” kepada anak-anak dusun Tatibajo dengan mengajak mereka menyanyikan lagu-lagu ceria.

Lagu yang pertama adalah lagu “Bermain Lingkaran”, yang liriknya,

Ayo kawan kita bermain lingkaran,
Mencari binatang yang ada di hutan,
Binatang apakah itu? binatang apakah itu?
Itu ular namanya

Beginilah jalannya
Beginilah jalannya
Beginilah jalannya
(sembari kedua tangan dirapatkan dan menirukan cara ular melata ke kanan ke kiri)

Sepanjang jalan aku meminta mereka mengganti kata ular dengan kata yang lain, namun ternyata memang mereka masih harus dibimbing untuk mencari contoh binatang yang akan ditirukan geraknya pada lagu ini. Sesampai di pinggir kami masih harus berjalan ke rumah bu Haji, kakak pertama dari ayah angkat kami yang rumahnya tak jauh dari tempat kami turun di pinggir. Sekitar lima belas menit kami berjalan sebelum akhirnya sampai ke rumah bu Haji. Sesampai di sana sudah ada guru-guru SDN Inp 27 Tatibajo yang menanti untuk memberikan salam perpisahan. Namun tak lama kemudian Mas Arif masih harus bertemu dengan Mbak Vivi, pengajar muda penempatan dusun Rura yang letaknya tak jauh dari tempat kami jika ditempuh dengan sepeda motor.

Aku pun memutuskan untuk ikut bersama Mas Arif ke Tabojo, sebuah warung di dekat pertigaan jalan menuju dusun Rura. Cepat saja sampai kami sampai ke Tabojo. Tangis dan air mata sudah membanjiri mata warga Rura karena harus melepas Mbak Vivi, guru anak-anak mereka dan keluarga mereka selama satu tahun terakhir. Begitu pula ketika kami datang, beberapa rekan meminta berfoto bersama Mas Arif dengan harapan mereka tidak saling lupa satu sama lain setelah perpisahan yang terjadi hari ini.

Akhirnya kami pun kembali ke rumah Bu Haji. Episode yang sama terjadi ketika kami bersiap membawa barang-barang masuk ke dalam pete-pete (sebutan untuk angkutan umum di Majene), tangisan anak-anak Tatibajo pun “meledak” dan rencanaku dengan anak-anak untuk menyanyikan lagu perpisahan bagi Mas Arif gagal sudah. Bahkan terjadi lebih dari yang kami bayangkan, ibu angkat kami pingsan di teras rumah Bu Haji. Kami pun harus menunda keberangkatan sejenak dan Mas Arif membawa ibu ke dalam rumah Bu Haji. Sapaan dan goyangan tangan mas Arif berusaha membangunkan ibu dari ketidaksadaraannya. Warga sibuk ikut ingin melihat, “Tolong mundur sedikit! Mundur sedikit! Beri ruang udara!” seruku yang hanya bisa memperingatkan warga untuk memberikan ruang bagi ibu agar terdapat udara segar yang cukup di sana.

Ibu pun akhirnya terbangun, terlihat Mas Arif memberikan pengertian kepada Ibu agar dapat menenangkan Ibu yang sedang terkulai lemas karena anaknya akan pergi ke pulau seberang.  Sang pengajar muda ini pun berhasil meyakinkan Ibu. Mas Arif pun naik ke pete-pete dan lembaran perjuangan tentang pejuang yang baru pun akan segera dimulai. Optimisme yang kugenggam dari Pengajar Muda sebelumnya menjadi pasak bagi tiang perjalanan hidupku di dusun Tatibajo untuk mendidik anak-anak bangsa di dusun ini menjadi pemimpin masa depan. Diantara mereka terdapat potensi yang aku yakini akan membawa dusun ini kelak menjadi tempat yang lebih nyaman bagi warganya.

Kini giliranku yang membantu mendidik dan menyadari mutiara-mutiara bangsa bahwa mereka punya peluang untuk bersinar dan menerangi sekitar mereka. Kini giliranku yang belajar dari kehidupan masyarakat melalui kehidupan akar rumput. Ada satu doa yang kupanjatkan kepada Sang Pemilik milyaran galaksi di alam semesta ini, yakni memohon aku bisa mendapatkan kekuatan dan petunjuk dari-Nya agar dapat memberikan yang terbaik dan belajar dari kehidupanku selama empat belas bulan ke depan. Sungguh aku yakin, fase hidupku kali ini merupakan salah satu fase yang memiliki banyak hikmah dan pelajaran hidup bagiku.

Iringan warga dusun yang mengantar Mas Arif ke pinggir.

Cerita ini juga bisa dibaca di Website Indonesia Mengajar

Read More

Saya?!

Foto saya
Dipanggil Fajar. Sampai saat ini masih yakin terlahir untuk menjadi pemenang, walaupun saat ini saya masih amat jauh dari pribadi dan pengetahuan seorang pemenang. Saya harus terus belajar hingga benar - benar menjadi pemenang di dunia dan di akhirat bersama pemenang-pemenang lainnya. Alhamdulillah saat ini saya telah lulus dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Cita - cita : Menjadi seorang pemilik perusahaan IT Indonesia yang disegani di seluruh dunia, dan menjadi orang super kaya sehingga mampu membantu sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia! Hal ini tak akan bisa terwujud tanpa doa, dukungan dan kerja keras. Untuk itu mohon doanya juga dari para pembaca :D

Fajar's Personality

Click to view my Personality Profile page