Selasa, 11 Agustus 2009

Quote of the Months!

Dari blog tetangga sebelah mendapat sebuah quote mantap. Semoga bisa membuat hidup lebih bersemangat!


sumber gambar: http://www.flickr.com/

Teruslah bergerak, hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu!

Teruslah berlari hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu!

Teruslah berjalan hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu!

Teruslah bertahan hingga KEFUTURAN itu FUTUR bersamamu!

Tetaplah berjaga hingga KELESUAN itu LESU bersamamu!

(KH. Rahmat Abdullah)


Read More

Senin, 03 Agustus 2009

Divonis

sumber gambar: http://www.flickr.com/

Setelah check up saya pun divonis seminggu lagi . . .
seminggu lagi harus istirahat di rumah (rawat jalan), gak boleh pergi-pergi ataupun naik motor. Karena semua ini diawali dengan kelalaian dalam beristirahat ketika sakit, maka selanjutnya saya hanya bisa mematuhi perintah Pak dokter. Alhamdulillah cuman rawat jalan, daripada dirawat di Rumah Sakit.
Terpaksa kegiatan terpusat di rumah, ayo dah yang mau rapat, di rumah aja ya!
Dengan postingan ini saya juga minta izin (+ maaf klo perlu) ke teman - teman DPM, karena saya akan pasif di kampus selama seminggu ke depan. Juga ke para panitia pejuang PMB 2009 saya tidak bisa mengawasi dengan baik selama beberapa minggu ini, tetap komit, kompak semangat!
Dan juga semua organisasi non formal yang saya terlibat di dalamnya, saya izin dulu. Insya Allah proker tetap jalan (cape donk prokernya jalan-jalan).

Terima Kasih.


nb: kenapa blog jadi tempat nulis surat ya?!

Read More

Minggu, 02 Agustus 2009

Kembali

sumber gambar: http://www.flickr.com/

Saya dengan status suspect DBD ditempatkan di pojok ruangan yang disebut 305 tempat tidur nomor 3 di sebuah rumah sakit di kota Depok. Di sebelah kiri terdapat jendela kaca yang sangat besar yang seukuran tembok. Ibu saya memilihkan tempat ini agar ketika sudah sehat saya bisa melihat pemandangan di luar rumah sakit.
Kenapa bisa sampai ke sini? Ceritanya panjang, ringkasnya diawali dengan sakit tenggorokan di hari Senin pagi (19 Juli 09) dan sempat demam dua hari (20, 21 Juli) lalu pulih, dalam keadaan yang belum benar – benar sehat pergi keluyuran ke luar rumah menjalankan beberapa amanah. Bahkan sebenarnya saya juga sempat main basket (bagian ini keluarga saya tidak ada yang tahu sampai saat ini, kecuali mereka membaca blog ini).
Walhasil hari Minggu (26 Juli 09) suhu badan pun panas tak tertahankan sekitar 40 derajat. Mungkin seperti postingan mister Big, pada saat itu saya hanya me-muhasabah diri sambil berdoa minta digugurkan dosa-dosa seiring dengan rasa dingin menyengat yang melanda tubuh ini. Singkat cerita malam itu juga saya dibawa ke rumah sakit dan dokter mengambil tindakan, dan saya pun disuntik Novalgin. Saat itu masih bersikeras rawat jalan, sampai akhirnya besok “dirumahsakitkan” karena kadar leukosit meningkat sampai 22.000. Normalnya leukosit itu berkadar 5.000 – 10.0000, jika 12.000 saja artinya ada infeksi ringan di tubuh, maka 22.000 maka bisa diterka apa yang terjadi.
“Subhanallah”, mungkin kata ini yang tepat menggambarkan pengalaman saya, karena dengan sakit yang agaknya cukup "lebay" ini, saya jadi mengintrospeksi diri. Berikut beberapa hal hikmah yang bisa saya tangkap selama di RS. Pertama, disebelah saya ada seorang pemuda juga berumur 18 tahun lulusan MAN 14 yang akan meneruskan studinya ke Al-Hikmah, calon ustadz, beliau-lah yang menjadi penjaga ibadah saya di rumah sakit, ibaratnya sparring partner dalam berbuat baik, secara tidak langsung Sang Pemilik Siang dan Malam menegur saya yang selama ini merasa sudah pede dengan ibadah harian, padahal sampai saat ini bisa dibilang masih sangat kurang alias pas-pasan doank.
Kedua, dengan kejadian ini, saya diingatkan kembali bahwa manusia itu begitu kecil dan lemah, tanpa pertolongan dari-Nya kita bukan apa-apa. Untuk menurunkan kadar leukosit yang menjadi indikator kesahatan saya saja, pada saat itu saya cuman bisa mengikuti prosedur kesehatan RS (minum obat dll.) dan meminta kepada Sang Maha Berkehendak agar penyakit ini disembuhkan oleh-Nya.
Hasil diagnosa pun disimpulkan oleh dokter, ternyata saya tidak menderita DBD tapi bronchupnemonia yang disebabkan oleh virus. By the way kenapa saya tulis di sini penyakitnya apa, karena banyak yang bertanya klo ketemu saya “Sakit apa Jar?”, supaya gak pada penasaran juga. Ketiga, lagi – lagi saya dibuat sadar tentang betapa kufurnya manusia yang sering mengingkari kesehatan yang ia miliki. Padahal harga sehat itu sendiri sangat mahal! Mungkin seringkali kita dengar muda sebelum tua, sihat sebelum sakit, lirik ini sangat nyata lho walaupun seringkali kita anggap enteng. Tak ada keinginan untuk menceramahi tapi hanya sekedar saling mengingatkan, syukurilah sehat dengan menjaga kesehatan itu sendiri, syukurilah sehat dengan makan tepat waktu dan tepat gizi, syukurilah sehat (tentu) juga dengan mendirikan shalat lima waktu (untuk yang muslim) dan dianjurkan yang sunnahnya juga, karena tak ada yang tau sholat kita kita cukup atau tidak untuk bekal ke sana kelak. Syukurilah sehat, sebelum sehat itu pergi meninggalkan kita.
Kini, saya telah kembali untuk berkarya di Bumi ini! Akhir kata saya ucapkan “Alhamdulillah, segala puji bagi Engkau Rabb Semesta Alam”.


Wallahualam bissawab.


Read More

Kamis, 16 Juli 2009

Farewell

Tak ada kata yang bisa dituliskan di postingan ini.
Semoga mendapatkan yang terbaik dari-Nya
Untuk sahabat terbaik Fasilkom 2007

Ida Bagus Gde Arditya Hardaya

Selalu menebar senyum di setiap saat,
Kreatifitas dan kontribusi di setiap acara Fasilkom,
Dan kekritisanmu yang selalu mengajak diri ini yang pas-pasan dalam hal kecerdasan, berdiskusi di tengah kelas Basis Data, tak akan mudah terlupakan.

Selamat Jalan!

Read More

Kamis, 09 Juli 2009

Tenggelam atau Menyelam?

sumber gambar: http://www.flickr.com/

Salim A. Fillah dalam bukunya "Jalan Cinta Para Pejuang" menganalogikan hidup ini seperti orang yang berada di lautan. Tulisan saya di postingan ini mencoba me-reka ulang analogi tersebut, tapi tidak persis seperti yang ada di buku beliau, sedikit dirubah, dikurangi, ditambahkan, dibumbui sesuai kebutuhan, silahkan disimak.

Seorang penyelam dengan peralatan selam lengkap yang juga berkualitas nomor 1, berada di bawah permukaan laut. Orang tersebut melihat seorang penyelam lain yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong ketika menyelam, padahal saat itu mereka berada pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut. Lalu dalam pikirnya "Wah hebat sekali ada orang yang menyelam tanpa menggunakan peralatan lengkap seperti saya".
Sesaat kemudian, perhatian penyelam mau tak mau tertuju pada keindahan pesona fauna di lautan. Ikan-ikan dengan warna-warni yang indah berkeliaran ke sana ke mari. Ikan-ikan tersebut berenang layaknya lukisan hidup di atas kanvas biru. Setelah beberapa menit terpukau dengan pesona lautan di kedalaman 10 meter, sang penyelam pun kembali turun lebih dalam menuju ke kedalaman 20 meter.
Sang penyelam lagi-lagi terkejut, karena di kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut ia kembali bertemu dengan penyelam kaos oblong. "Subhanallah, ternyata orang itu sudah sampai di sini" serunya dalam hati. Lagi-lagi perhatian sang penyelam teralihkan ke suasana lautan yang semakin indah, ikan-ikan kecil bergerombol untuk berenang, membentuk formasi tanpa bertabrakan. Juga ubur-ubur yang berenang seperti balon ulang tahun yang ditempeli dengan tali kembang kempis terbang menjauhi sang Penyelam.
Perjalanan pun dilanjutkan, sang penyelam menyelam lebih dalam lagi, kali ini kedalaman 30 meter. Suasana lautan gelap dan mulai terlihat ikan-ikan yang menyala-nyala, juga ditemukan banyak tumbuhan lautan, coral, dan tanaman-tanaman lautan lainnya yang pesonanya tak kalah indah dengan ikan-ikan disekitarnya. Sang penyelam pun kaget, ternyata penyelam kaos oblong telah sampai ke kedalaman 30 meter juga!
Lalu ia pun menyatakan kekagumannya dengan memberikan kode jempol dua. Namun ternyata penyelam kaos oblong itu membalasnya dengan kode SOS. Ia tenggelam!

Hikmah luar biasa ternyata terkandung dalam kisah di atas. Salah satunya, "Sudahkah kita mempersiapkan peralatan terbaik dalam mengarungi dunia ini?". Keimanan, Akhlak yang Baik, Ibadah yang Benar, adalah salah tiga dari banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menjadi peralatan atau bekal kita mengarungi dunia. Melanggar perintah agama jauh lebih mudah ketimbang menjalankannya, godaan dunia pun tak kunjung usai menerpa, harta, tahta, wanita.
Seperti KPK yang ribut sendiri sama ketua non-aktifnya yang juga melibatkan aparat kepolisian. Mereka seharusnya saling bahu membahu memberantas para penyelam kaos oblong. Para penyelam kaos oblong yang seringkali dikira orang penyelam profesional. Rumah mentereng, mobil seharga milyaran dan banyak hal lainnya yang mereka miliki saat ini membuat mereka seolah-olah menjadi para penyelam sukses.
Padahal para penyelam kaos oblong sedang tenggelam di dunia, terpesona oleh "ikan" harta dan "ubur-ubur" kekuasaan. Akibatnya mereka mencari cara apapun untuk mendapatkan semua hal itu, hal ini disebabkan sebelumnya mereka tidak mempersiapkan "perkakas" iman dengan kualitas jempolan untuk digunakan seraya menyelam. Meraka malah hanya bermodal kaos oblong dan celana pendek untuk mengarungi "lautan" dunia yang luas dan dalam ini.
Kita saat ini bukan tidak mungkin sedang tenggelam di dunia dan mengira diri kita seorang yang sedang menyelam dengan handal dan penuh persiapan. Tak ada salahnya kembali mempersiapkan diri sebelum kembali menyelam, selagi libur (untuk yang kuliah di UI) serta selagi "toko baju selam" Ramadhan akan kembali membekali kita menjadi insan yang lebih siap menghadapi pesona indahnya "lautan" dunia.
Tertarik membaca bukunya? silahkan hubungi toko buku terdekat atau teman terdekat yang rajin baca buku dan suka meminjamkan buku. Masih banyak nasihat atau tausiyah lain di buku bertajuk "Jalan Cinta Para Pejuang" ini yang menunggu untuk dibaca dan diambil hikmahnya. Semoga bermanfaat.

nb: Untuk mas Salim klo sempat membaca postingan ini, mohon ijin untuk me-reka ulang cerita di atas :D


Read More

Saya?!

Foto saya
Dipanggil Fajar. Sampai saat ini masih yakin terlahir untuk menjadi pemenang, walaupun saat ini saya masih amat jauh dari pribadi dan pengetahuan seorang pemenang. Saya harus terus belajar hingga benar - benar menjadi pemenang di dunia dan di akhirat bersama pemenang-pemenang lainnya. Alhamdulillah saat ini saya telah lulus dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Cita - cita : Menjadi seorang pemilik perusahaan IT Indonesia yang disegani di seluruh dunia, dan menjadi orang super kaya sehingga mampu membantu sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia! Hal ini tak akan bisa terwujud tanpa doa, dukungan dan kerja keras. Untuk itu mohon doanya juga dari para pembaca :D

Fajar's Personality

Click to view my Personality Profile page