Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Semangat Canda

Bercanda. Ada kalanya kita harus bercanda. Lho kok? Ini adalah postingan penyemangat untuk penulis blog. Sekarang sudah jamannya jurnalisme positif. Yakni mengangkat cerita positif untuk memicu semangat orang lain untuk juga berkontribusi positif.

Semuanya berawal ketika saya mulai belajar untuk pribadi yang jujur minimal terhadap diri sendiri. Ternyata sulit. Kebaikan itu sulit dilakukan. Saya pun akhir-akhir ini menemukan bagaimana jadi pribadi baik yang tidak terlalu serius. Lho kok baik tidak serius? Bukan, tetapi belajar menjadi pribadi baik nan humoris. Pada akhirnya bercanda tanpa berbohong adalah cara efektif untuk menjadi pribadi yang baik namun tidak terlalu mempersulit diri sendiri. Bagaimana contohnya? Apa hubungannya dengan jurnalisme positif? Hehe, kalau Anda bertanya begitu berarti Anda terlalu serius. Caranya mudah tertawalah ketika ada hal yang lucu. Rekam di dalam kepala. Lalu ceritakan ke orang lain. Itu adalah cara menjadi pribadi yang lucu. Jangan terlalu dipikirkan, nanti lucunya tidak jadi. :p

Read More

Kamis, 21 April 2011

Syuhada

Gambar oleh jcarlosn
Seorang syuhada bukanlah orang yang langsung menyerah pada ujung penentuan tanpa usaha yang signifikan. Seorang syuhada adalah seorang yang berusaha maksimal. Seseorang yang memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di tengah keterbatasan dan pantang menyerah walau keadaan banyak tidak menguntungkan sampai akhirnya cuma ada dua pilihan. Tetap berusaha hingga menggapai hidup mulia atau tetap berusaha sampai akhirnya ada force major yang mengakhiri perjuangannya dan dia pun dijemput ke surga.

Kita hidup di dunia yang nyaris tak ada lagi beda antara waras dan gila. Jika dahulu seorang sahabat Rasul SAW bisa kehilangan hapalan karena melihat paha yang tersingkap, sekarang mungkin hafalan berguguran setiap hari jika tidak dipertahankan, diulang-ulang, dilafalkan. Mungkin jika orang tersebut hidup di zaman ini, maka hilanglah semua hafalannya. Terkadang ingin tertawa saat masyarakat mencerca kepada orang yang kedapatan terlibat pornografi dan pornoaksi, tetapi pornografi yang beredar di koran-koran, televisi, buku, cara berpakaian seolah dianggap angin lalu.

Beginilah dunia saat ini, orang baik akan kesulitan untuk hidup. Orang baik justru dipandang dengan alis miring, sembari berkata "kenapa nih bocah?". Terlepas dari fenomena aneh dunia, jangan pernah berhenti menyadarkan orang untuk berbuat baik walaupun kecil.

Dengan ilmu yang sedikit ini,
Dengan iman yang tipis ini,
Dengan energi yang tak banyak ini,
Semoga menjadi alasan untuk menjadikan diri ini lebih baik lagi,
Semoga diri ini pun menjadi bagian yang membuat negeri ini lebih baik lagi.
Semoga kita tetap diberikan hidayah untuk menegakan kebenaran dan menjadi syuhada suatu hari nanti.

Read More

Kamis, 10 Februari 2011

Media


Media saat ini telah menjadi benda yang cenderung merusak. Apapun medianya, TV, internet, handphone, telepon, email, tempe (eh salah ini mah makanan), radio dan lain-lain tetap punya potensi merusak. Bukan salah media, tetapi salah manusia sebagai pengguna media. Terutama sang pemberi informasi. Ketidakhati-hatian dalam penggunaan media dan ketidakpernahan belajar agama dengan serius bisa jadi salah satu penyebabnya. Kerusakan yang terjadi tidak kalah parah dengan radiasi nuklir yang menyebar bersama hembusan udara. Mungkin lebih parah lagi, karena yang diserang bukan fisik tetapi ruh. Dan yang rusak bukan otot tetapi otak.
Konten negatif media bisa dikatakan merupakan masalah klasik. Tulisan ini dibuat bukan untuk merendahkan orang lain ataupun mem-"bersih"-kan diri sendiri. Tetapi hanya tumpahan rasa muak akan keadaan media hari ini.
Media sebagai bagian dari kemajuan teknologi pasti memiliki potensi kebaikan sekaligus potensi kerusakan. Butuh waktu, dana, kesadaran dan tenaga yang tidak sedikit untuk memperbaiki media. Hal yang terpenting adalah mencegah kerusakan yang disebarkan oleh berbagai media dengan cara membentengi diri. Sebuah firman Allah SWT.

"Adapun jika datang kepada kamu sekalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha: 132)

Pada ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berpedoman pada petunjuk-Nya. Berikut salah satu hadist yang menjelaskan bentuk kongkrit mengikuti petunjuk-Nya.

"Allah menjamin siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat kelak" (Dikeluarkan oleh ibnu Abi Syaihah, Al-Hakim dan dishahihkannya)

Hadist di atas membahas tentang ngaji. Ngaji berasal dari kata mengkaji. Tilawah (membaca) Al-Quran adalah bentuk ngaji yang paling sederhana. Dalam konteks membentengi diri dari berbuat maksiat dan membentengi diri dari kerusakan media, tilawah saja belum cukup. Kita harus berusaha mencari majelis atau perkumpulan yang mengkaji lebih dalam tentang nilai-nilai agama Islam yang terkandung dalam Al-Quran. Majelis yang cukup populer beberapa diantaranya mentoring keagamaan, kultum dan acara ceramah di tipi, majelis ta'lim atau ceramah umum offline alias langsung berhadapan dengan ustadz.
Jika mau dibahas asalnya darimana saja metode-metode ini, maka akan panjang ceritanya (saya juga gak tau-tau amat :p). Jadi saya akan jabarkan saja pendapat saya tentang hal-hal tersebut. Ceramah umum sangat efektif untuk menjadi media penambahan wawasan, mengenal tentang sesuatu ataupun memperdalam pengetahuan tentang sesuatu. Tetapi saya rasa masih belum cukup efektif dalam hal mendorong diri kita menerapkan pengetahuan yang sudah kita dapatkan. Kita butuh majelis yang lebih kecil yang diisi dengan orang-orang yang punya niatan untuk belajar Islam dan menerapkan nilai-nilai Islam perlahan tapi terus dicoba dan diusahakan. Mungkin salah satu bentuk majelis ini adalah mentoring keagamaan.
Mentoring keagamaan pun hanya akan menjadi efektif jika kita benar-benar punya niat untuk belajar dan meminta kepada Allah SWT supaya diberikan hidayah dalam mempelajari agama Islam. Dan yang terakhir kembali lagi solusinya adalah ibadah sunnah rutin, semisal tilawah. Sebagai salah satu ibadah sunnah yang simple. Tilawah menjadi sebuah pemenuhan kebutuhan ruh yang bisa dilakukan dimana saja (selama tempatnya bersih dan kita juga dalam keadaan punya wudhu). Mengikuti ceramah umum, mentoring dan tilawah adalah bekal awal. Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri. Tips lainnya jika sempat akan di-post pada kesempatan berikutnya.
Akhir kata, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi nasihat dan pengingat bagi penulis dan pembaca.

Wallahu'alam.

Read More

Sabtu, 13 Februari 2010

Luar Biasa!


Kata orang bijak kehidupan adalah guru terbaik. Hidup di sekitar orang-orang yang punya kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual adalah hal yang 'merepotkan' namun luar biasa. Merepotkan karena seringkali lelah bersaing dengan mereka dalam segala hal. Luar biasa karena inilah nikmat hidup di dunia di sekitar orang-orang hebat. Setidaknya dalam enam tahun terakhir, inilah yang saya rasakan. Sejak dari SMA kelas X lebih tepatnya.

SMA saya adalah SMA yang sering disebut SMA unggulan di kota tempat saya tinggal. Tetapi perlu diingat saya memilih SMA ini alasan utamanya bukan karena SMA tsb unggulan, tetapi lebih karena SMA tsb dekat dengan rumah saya. Ketika SD saya sempat merasakan pendidikan Islam di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) dan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) Daarul Anshor. Dengan riwayat pendidikan itu, bocah yang baru masuk SMA ini, sempat merasa diri paling sholeh. Sampai suatu ketika saya bertemu dengan teman-teman saya di SMA yang berasal dari sebuah SMP IT di kota Depok. Di sinilah awal kedewasaan saya dalam berpikir mengenai kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian. Mereka para pemuda yang berbeda karena berani secara terang-terangan berpikir Idealis dan Spiritualis di tengah krisis moral siswa-siswi SMA. Tetapi walaupun begitu sama sekali tidak eksklusif.

Sholat sunnah (Dhuha, rawatib) setiap hari, berdoa dengan dikeraskan (di-zhohirkan) setiap kesempatan (mulai dari lomba, akan tampil di depan publik, ujian, belajar dll.), berorientasi pada mencari ridho Sang Maha Pencipta semata, selalu berempati pada lingkungan, berpikir solutif, bertindak kontributif dan selalu mengajak banyak orang menuju jalan kebaikan tanpa memilih-milih seseorang itu 'terlihat' pantas atau tidak untuk diajak. Saya pun terbingung-bingung dengan diri saya sendiri dikaitkan dengan fenomena tersebut. Pada akhirnya saya sadar bahwa saat itu iman saya setipis rambut atau bahkan lebih tipis lagi, karena ternyata saya belum berhasil benar-benar menghadirkan keimanan dalam setiap aspek kehidupan saya. Belum merasa diri diawasi oleh Sang Pencipta, belum merasa diri saya ini suatu saat akan mati dan diminta pertanggungjawabannya kelak, hal ini tercermin dari perilaku saya dan wawasan tentang agama saya sendiri yang hanya membatasi wawasan tersebut dalam tataran pemahaman tanpa implementasi.

Tak selesai sampai di sini, orang-orang di sekitar saya tadi ternyata bukan hanya para pemuda sufi funky tetapi juga akademisi topcer (ngetop dan otaknya encer). Terbiasa ranking 5 atau 10 besar di SMP membuat saya shock karena harus mengalami ranking belasan di SMA. Saya yang terlalu banyak bermain atau mereka yang memang cerdas sekali? itulah pertanyaan yang tertambat dalam pikiran saya. Dua tahun pun berlalu dan akhirnya saya pun mengerti salah satu alasan kuat kenapa mereka juga luar biasa di akademis. Yaitu karena kerja-kerja mereka untuk menebar kebermanfaatan kepada orang-orang di sekitar mereka dan keikhlasan merekalah yang membuat Allah SWT memberkahi setiap tindak tanduk mereka, termasuk belajar. Mungkin waktu belajar orang-orang yang diberkahi tidak lebih banyak daripada para kutubuku sejati, tetapi semua ilmu pengetahuan itu sejatinya adalah milik zat Yang Maha Mengetahui. Sehebat-hebatnya kita membaca dan menghafal, jika Dia tidak menghendaki kita berhasil, maka tak satupun materi pelajaran yang kita ingat.

Saya pun mulai membenahi diri dan tiga tahun berlalu. Alhamdulillah saya berhasil masuk ke PTN favorit serta menuntut ilmu di jurusan yang memang cukup saya minati. Orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas semakin kecil rasionya jika dibandingkan dengan para pemuda cinta dunia dan menuhankan harta (gaya/fashion, penilaian orang), tahta (IPK, barang-barang bergengsi), wanita (pacaran). Orang-orang yang seimbang dalam kehidupannya yang saya temukan di kampus agak berbeda namun perbedaan inilah yang menarik, semakin sedikit tetapi semakin berkualitas. Taraf kualiatasnya memang level kampus kampus favorit. Walau terkadang sedikit (satu atau dua) dari orang-orang sepert ini ada tindakannya mengecewakan saya. Tetapi wajar, mengutip kata seorang sahabat "Kita manusia bukanlah malaikat", sehingga wajar jika salah. Namun yang terpenting adalah apakah kita mau mengakui dan menyadari kesalahan tersebut serta memperbaikinya atau tidak.

Alhamdulillah, suatu nikmat yang luar biasa bisa menjalani kehidupan yang saya dikelilingi orang-orang hebat. Semoga pada hari esok kita bisa lebih baik dari hari ini. Dan semoga diri kita lebih baik dari yang orang-orang kira.

Wallahu'alam.

Read More

Jumat, 29 Januari 2010

Posting


Blog adalah cermin dari pemiliknya. Tulisan/ gambar/ video/ musik dan semua hal di dalamnya menggambarkan sang pemilik blog. Cara mengemas blog juga merupakan gambaran seberapa jauh niat pemilik untuk menyelaraskan gayanya dengan gaya blognya. Banyak hal yang bisa menjadi gambaran, tetapi yang terpenting dan yang paling menggambarkan adalah tulisan dari setiap postingan yang ada di blog tersebut.

Tulisan dalam postingan bisa membantu kita menebak banyak hal dari sang penulis mulai dari gender, hobi, idola, keahlian, sudut pandang, agama, aliran agama dll. Tetapi terkadang semua hal ini dalam blog bisa saja menipumu! Untuk itu para peseluncur dunia maya menciptakan "kopi darat" agar bisa bersilaturahmi dan kenalan dengan pemilik blog di dunia nyata.

Blog adalah media luar biasa. Media ini membuat kreasi kita bisa dibaca jutaan mata. Blog bisa menebar manfaat atau menebar mudharat secara masif, untuk itu janganlah sembarang tulis, tulisan di blogmu bisa memperngaruhi banyak orang. Banyak orang bisa jadi musuhmu atau sebaliknya, banyak orang yang akan menjadi sahabatmu. Sahabat bisa jadi musuh, musuh bisa jadi sahabat.

Postingan memang terkadang begitu sulit untuk diciptakan. Kita terkadang takut postingan kita tidak manfaat, takut bahasa menyakiti hati orang lain, takut munafik, takut di tuntut dengan UU ITE (yang ini kasusnya jarang), takut ini, takut itu. Satu hal yang saya ingat, kata seorang sahabat saya, "Bukankah setiap hal yang kita lakukan itu beresiko? hanya saja resikonya memang berbeda-beda".

Biasanya masalah timbul karena kita tidak memahami konsep dalam bertindak. "Memutuskan, memilih, bertanggung jawab" kata Dr. Ibrahim Elfiky, contoh gampangnya kitalah yang memutuskan kita mau jadi Mapres (Mahasiswa Berprestasi) atau Matres (Mahasiswa Stress). Lalu kitalah yang memilih mewujudkannya dengan cara apa, dan kita pula yang bertanggung jawab atas usaha kita, baik hasilnya positif maupun negatif. Ketika kita mendapat hasil positif maka bersyukurlah dan jangan pernah sombong. Ketika hasilnya negatif tak ada alasan untuk menyalahkan orang lain ataupun diri sendiri, karena kegagalan juga bagian dari tanggung jawab, dan dari kegagalan lebih banyak hal yang kita pelajari dibandingkan kita berhasil.

Posting, yang ngepost saja. Niatkan dengan yang baik, kerjakan dengan baik, selesaikan dan bersiaplah akan tanggung jawab yang harus diemban dari setiap postingan. Insya Allah klo niatnya baik, efeknya akan baik juga. Menulislah! akan ada banyak hal yang bisa dipelajari. Oh ya satu hal! Banyaklah membaca, karena tidak akan ada yang bisa kita tulis jika kita jarang baca (sedang menyindir diri sendiri, supaya lebih banyak membaca). Akhirnya selesai juga postingan ini.

Just post it!

Read More

Rabu, 13 Januari 2010

Generasi Pelangi


Postingan kali ini saya akan mencoba menganalogikan/ mentafsirbebaskan (meminjam istilah salah seorang sahabat) sesuatu hal. Ada yang bilang semua hal bisa diambil sisi positifnya untuk diperlajari, dan hal ini pernah diajarkan oleh Murobbi saya jaman SMA, beliau pernah mentausiyahkan tentang pohon Pisang. Tausiyah tersebut intinya menceritakan bahwa berbagai bagian dari pohon Pisang bisa bermanfaat, maka jadilah pohon Pisang yang setiap bagian dari fragmen kehidupan kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Jika pohon pisang bisa ditafsirkan, kenapa yang lainnya tidak? Saya mau sedikit bercerita tentang pelangi dari sudut pandang saya, apakah kita bisa mengambil pelajaran dari sifat pelangi? Silahkan klik "Read More" jika tertarik untuk membacanya.

"Pelangi ada setelah ada hujan sebelumnya"
Pelangi saya analogikan sebagai kepribadian seseorang. Pelangi menggambarkan kepribadian yang ceria dan memberikan keceriaan, sekalipun sebelumnya ada badai yang sangat dashyat. Kepribadian pelangi juga bisa diartikan hanya bisa didapatkan dari berbagai ujian berat yang telah dilalui.

"Berbagai spektrum warna pelangi terpadu dalam satu pita"
Semua warna ada, tanpa terkecuali, menggambarkan betapa kepribadian pelangi cinta akan persatuan, warna yang seimbang satu sama lain menggambarkan keadilan dalam bertindak.

"Pelangi tidak ada ujungnya"
Yap! semangat pribadi pelangi yang tanpa ada ujungnya, sekalipun orang-orang berusaha mengejar dan mencari titik putus asa dari sang pelangi, mereka tidak menemukannya!

"Pelangi pada dasarnya ialah uap air yang berkolaborasi dengan udara."
Kepribadian pelangi laksana air yang bersifat menenangkan dan seperti udara yang senantiasa bermanfaat untuk orang lain tetapi tidak meminta imbalan.

Sebenarnya lebih banyak lagi sifat-sifat pelangi yang bisa kita jadikan pelajaran, nah, untuk kali ini saya mempersilahkan pembaca untuk menambahkan postingan kali ini dengan berbagai sifat positif pelangi yang bisa kita terjemahkan sendiri dan kita tiru. Silahkan tambahkan di comment dan tak ada salahnya mencoba memiliki dari sifat-sifat pelangi, dan menjadi generasi pelangi yang mewarnai dunia ini dengan keceriaan untuk semua orang.

Read More

Jumat, 20 November 2009

Inspirator

sumber gambar: http://www.flickr.com/

Mereka adalah orang-orang yang terbangun
ketika orang lain tertidur, itulah sulitnya.
Mereka adalah orang-orang yang berbagi
ketika orang lain merampas, itulah peliknya.
Mereka adalah orang-orang yang menciptakan
ketika orang lain menikmati, itulah rumitnya.
Mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab
ketika orang lain mengadu, itulah repotnya.
Makanya tidak banyak orang yang bersama mereka di sana,
mendirikan imperium kebenaran,
menjadi teladan bagi seluruh alam.

- anonim, dengan sedikit gubahan oleh Muhamad Fajar-

Mereka yang ada pada puisi di atas tersebar di seluruh tempat, di sekitar saya, di kampus, di sekolah, di masyarakat, di pemerintahan, di kepolisian, di KPK, di pengadilan dan di banyak tempat lainnya. Bukan ketenaran yang mereka cari, apalagi imbalan, walau terkadang hal-hal itu menjadi bonus bagi mereka. Alasan mereka dalam berjuang dianggap tidak logis untuk beberapa orang, khususnya bagi orang-orang yang terjebak dalam nilai-nilai materi dan terbatas pada pengelihatan dunia.

Mereka adalah orang-orang yang menjadi inspirasi bagi saya. Ketika saya tidak bersemangat, keseharian mereka membuat hati ini merasa terbakar melihat kerja-kerja mereka yang penuh manfaat dan seolah tanpa lelah. Mereka membuat rencana seolah akan hidup seribu tahun lagi, tetapi selalu mengintrospeksi diri seolah akan mati tak lama lagi. Mereka tentu saja manusia yang tak jarang melakukan kesalahan, tetapi ketika tersadar mereka akan berusaha memperbaikinya.

Maaf tulisan di postingan ini terlalu puitis, karena kisah mereka terlalu sayang jika tidak diceritakan dengan cara yang puitis. Tulisan ini terinspirasi dari orang-orang di sekitar saya yang tak pernah berhenti berkontribusi dan bermanfaat untuk orang lain. Saya melihat sedikit tanda-tanda kepunahan sifat-sifat mereka. Hal ini harus kita dicegah, yuk! kita sama-sama belajar menjadi bagian dari mereka :D!.

Read More

Kamis, 09 Juli 2009

Tenggelam atau Menyelam?

sumber gambar: http://www.flickr.com/

Salim A. Fillah dalam bukunya "Jalan Cinta Para Pejuang" menganalogikan hidup ini seperti orang yang berada di lautan. Tulisan saya di postingan ini mencoba me-reka ulang analogi tersebut, tapi tidak persis seperti yang ada di buku beliau, sedikit dirubah, dikurangi, ditambahkan, dibumbui sesuai kebutuhan, silahkan disimak.

Seorang penyelam dengan peralatan selam lengkap yang juga berkualitas nomor 1, berada di bawah permukaan laut. Orang tersebut melihat seorang penyelam lain yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong ketika menyelam, padahal saat itu mereka berada pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut. Lalu dalam pikirnya "Wah hebat sekali ada orang yang menyelam tanpa menggunakan peralatan lengkap seperti saya".
Sesaat kemudian, perhatian penyelam mau tak mau tertuju pada keindahan pesona fauna di lautan. Ikan-ikan dengan warna-warni yang indah berkeliaran ke sana ke mari. Ikan-ikan tersebut berenang layaknya lukisan hidup di atas kanvas biru. Setelah beberapa menit terpukau dengan pesona lautan di kedalaman 10 meter, sang penyelam pun kembali turun lebih dalam menuju ke kedalaman 20 meter.
Sang penyelam lagi-lagi terkejut, karena di kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut ia kembali bertemu dengan penyelam kaos oblong. "Subhanallah, ternyata orang itu sudah sampai di sini" serunya dalam hati. Lagi-lagi perhatian sang penyelam teralihkan ke suasana lautan yang semakin indah, ikan-ikan kecil bergerombol untuk berenang, membentuk formasi tanpa bertabrakan. Juga ubur-ubur yang berenang seperti balon ulang tahun yang ditempeli dengan tali kembang kempis terbang menjauhi sang Penyelam.
Perjalanan pun dilanjutkan, sang penyelam menyelam lebih dalam lagi, kali ini kedalaman 30 meter. Suasana lautan gelap dan mulai terlihat ikan-ikan yang menyala-nyala, juga ditemukan banyak tumbuhan lautan, coral, dan tanaman-tanaman lautan lainnya yang pesonanya tak kalah indah dengan ikan-ikan disekitarnya. Sang penyelam pun kaget, ternyata penyelam kaos oblong telah sampai ke kedalaman 30 meter juga!
Lalu ia pun menyatakan kekagumannya dengan memberikan kode jempol dua. Namun ternyata penyelam kaos oblong itu membalasnya dengan kode SOS. Ia tenggelam!

Hikmah luar biasa ternyata terkandung dalam kisah di atas. Salah satunya, "Sudahkah kita mempersiapkan peralatan terbaik dalam mengarungi dunia ini?". Keimanan, Akhlak yang Baik, Ibadah yang Benar, adalah salah tiga dari banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menjadi peralatan atau bekal kita mengarungi dunia. Melanggar perintah agama jauh lebih mudah ketimbang menjalankannya, godaan dunia pun tak kunjung usai menerpa, harta, tahta, wanita.
Seperti KPK yang ribut sendiri sama ketua non-aktifnya yang juga melibatkan aparat kepolisian. Mereka seharusnya saling bahu membahu memberantas para penyelam kaos oblong. Para penyelam kaos oblong yang seringkali dikira orang penyelam profesional. Rumah mentereng, mobil seharga milyaran dan banyak hal lainnya yang mereka miliki saat ini membuat mereka seolah-olah menjadi para penyelam sukses.
Padahal para penyelam kaos oblong sedang tenggelam di dunia, terpesona oleh "ikan" harta dan "ubur-ubur" kekuasaan. Akibatnya mereka mencari cara apapun untuk mendapatkan semua hal itu, hal ini disebabkan sebelumnya mereka tidak mempersiapkan "perkakas" iman dengan kualitas jempolan untuk digunakan seraya menyelam. Meraka malah hanya bermodal kaos oblong dan celana pendek untuk mengarungi "lautan" dunia yang luas dan dalam ini.
Kita saat ini bukan tidak mungkin sedang tenggelam di dunia dan mengira diri kita seorang yang sedang menyelam dengan handal dan penuh persiapan. Tak ada salahnya kembali mempersiapkan diri sebelum kembali menyelam, selagi libur (untuk yang kuliah di UI) serta selagi "toko baju selam" Ramadhan akan kembali membekali kita menjadi insan yang lebih siap menghadapi pesona indahnya "lautan" dunia.
Tertarik membaca bukunya? silahkan hubungi toko buku terdekat atau teman terdekat yang rajin baca buku dan suka meminjamkan buku. Masih banyak nasihat atau tausiyah lain di buku bertajuk "Jalan Cinta Para Pejuang" ini yang menunggu untuk dibaca dan diambil hikmahnya. Semoga bermanfaat.

nb: Untuk mas Salim klo sempat membaca postingan ini, mohon ijin untuk me-reka ulang cerita di atas :D


Read More

Rabu, 10 Juni 2009

Iqra!

Iqra! Satu kata, penuh makna. Wahyu pertama yang turun kepada orang nomor 1 di dunia Rasulullah SAW, adalah satu kata yang seringkali kita remehkan begitu saja. Iqra yang dalam bahasa Indonesia berarti 'baca' ternyata saat ini menjadi rahasia kesuksesan negara - negara besar di dunia. Saya akan mencoba mengupas rahasia kata 'Iqra' bisa menjadi jurus sakti mandraguna dari sudut pandang saya.
"Iqra" yang memiliki arti sempit membaca dan arti luas menuntut ilmu, ternyata diamalkan atau dilaksanakan lebih banyak oleh orang yang tidak beragama Islam, padahal perintah Iqra sejatinya diperuntukan bagi umat muslim. Terbukti dari banyaknya riset yang ada di negara - negara maju. Bahkan yang menurut saya belum terlalu penting untuk menjadi suatu riset, salah satu contohnya adalah robot koki Okonomiyaki buatan Jepang, mobil bertenaga coklat di London. Bahkan hal - hal luar biasa yang biasanya cuman ada di serial animasi juga jadi riset, di Amerika, yakni pembangkit listrik di luar angkasa!
"Iqra" sendiri adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, bahasa yang telah berumur kurang lebih 8000 tahun. Bahasa ini adalah salah satu cabang dari bahasa Semit. Bahasa Samit sendiri adalah bahasa yang "terbudidayakan" oleh keturunan nabi Nuh AS yaitu anaknya yang bernama SAM. Begitu banyak bahasa yang berasal dari rumpun bahasa semit, tapi yang bertahan hanya sedikit, antara lain, Aramia, Arab dan Ibrani. Mungkin jika bahasa Arab tidak menjadi bahasa yang digunakan di Al-Quran, bahasa Arab juga tidak lolos dari kepunahan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak umat Islam yang belum menguasai bahasa Arab, padahal pedoman lifestyle-nya Al-Quran, diantarkan oleh malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW dengan bahasa Arab. Di sisi lain, fenomena yang unik terjadi di suatu negara adidaya. Di Amerika Serikat tercatat begitu banyak orang yang ingin belajar bahasa Arab, alasannya sederhana, bahasa Arab itu dikenal sulit dan orang Amerika tertantang untuk mempelajarinya.
Pada 1973 PBB meresmikan bahasa arab sebagai bahasa internasional, jadi salah klo kita mengira bahasa Arab itu bahasa gak keren. Kerjasama Indonesia dengan negara - negara Arab juga semakin membaik, terbukti dengan pembelian saham Indosat oleh Qatar. Besar kemungkinan bahasa Arab akan menjadi salah satu modal kita untuk "berjuang" di era globalisasi yang sudah semakin mendekat.
Saat ini di Indonesia sendiri terdapat 70.000 pondok pesantren yang semuanya mengajarkan bahasa Arab, semua UIN/STAIN se-Indonesia mengajarkan bahasa Arab. lebih dari 100 Universitas Muhammadiyah mengajarkan bahasa Arab. Sejumlah universitas dibawah DIKNAS (termasuk UI) juga membuka jurusan Bahasa Arab atau Satra Arab.

Bahkan umat muslim pun telah diseru oleh Sang Khalik,

Sesungguhnya Aku telah menurunkan Al - Quran berbahasa Arab semoga kamu dapat memahaminya. (QS. Yusuf: 2)

Dan Rasulullah SAW pun bersabda,

Cintailah bahasa Arab karena tiga hal: karena saya orang Arab, karena Al - Quran berbahasa Arab, dan karena penghuni surga berbahasa Arab. (HR. Thabrani)

Ibnu Taimiah mewajibkan belajar bahasa Arab karena ada kaidah yang berbunyi "Jika ada sesuatu yang dibutuhkan untuk melaksanakan hal yang hukumnya wajib, maka sesuatu itupun menjadi wajib". Seperti wudhu menjadi wajib jika umat muslim akan melaksanakan shalat, maka memahami bahasa Arab menjadi wajib jika kita ingin benar - benar berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah.
Ingin belajar bahasa Arab tapi gak punya modal besar untuk hal ini. Hubungi saya di fajar_today_89@yahoo.com dan kirimkan form pendaftaran yang sudah diisi yang bisa diunduh di sini. Baru berjalan satu pertemuan dengan tema "Introduction", sedikit materi intro-nya terlah saya tulis di artikel ini (beberapa hal di atas diambil dari materi pertemuan pertama). Klik posternya jika masih penasaran. Di tunggu Ba'da Maghrib jamaah pertama, setiap hari Rabu, di masjid Al-Muhajirin Depok, pertemuan selesai pada sekitar jam 20.45 WIB. Di bawah bimbingan Ust. DR. Basuni Imaddudin (dosen pasca sarjana Universitas Indonesia) mari kita belajar bahasa Arab bersama!

Read More

Rabu, 03 Juni 2009

Peluang

sumber gambar: http://www.flickr.com/

Peluang, hal yang sering kali ada di sekitar kita, tetapi sering kali tak kita sadarai. Namun terkadang sebaliknya, peluang itu kita cari - cari, tetapi serasa sulit untuk menemukannya. Berikut petikan cerita tentang dua orang warga Indonesia, yang satu Indonesia tulen, yang satu lagi keturunan Cina. Sama sekali tak ada maksud untuk bersikap rasis, bahkan saya kagum dengan saudara - saudara setanah air saya yang berdarah keluarga cina, mungkin cerita berikut ini bisa membantu pembaca mengerti kekaguman saya.

Seorang warga Indonesia keturunan Cina (sebut saja Joni) sedang bersepeda di depan rumah seorang warga Indonesia pribumi (sebut saja Fulan). Fulan terlihat sedang memarkir mobil BMW Z4 miliknya, sementara Joni sedang memarkir sepeda ontel andalannya.
Joni pun melirik dan celingak celinguk melihat BMW milik Fulan seraya berkata "Ful, boleh tuh BMW, tuker sama sepedaku Ful, mau tak?",
"Orang gila kali mau nuker BMW sama sepeda" balas Fulan.
"Namanya juga usaha" komentar Joni.

Setiap kisah pasti memiliki hikmah di dalamnya, begitu juga dengan petikan cerita super pendek di atas. Hikmahnya pun tergantung dari orang yang menginterpretasikan kisah tersebut. Saya pun memiliki interpretasi tersendiri dari kisah di atas. Pada kisah di atas tercermin bahwa Joni selalu memanfaatkan peluang sekecil apapun, bahkan peluang yang kemungkinan suksesnya < 1. Semangat yang sungguh luar biasa.
Orang Indonesia pribumi masih banyak sekali yang pemalas (kemungkinan termasuk saya) maunya banyak tapi usahanya sedikit, padahal di satu sisi, saudara - saudara kita yang lainnya jauh lebih pekerja keras daripada mereka, seharusnya kita bisa meniru mereka dalam memanfaatkan setiap peluang yang positif dalam hidup untuk merubah nasib diri kita sendiri. Itulah alasan saya menggumi karakteristik Indonesia keturunan Cina, bekerja tanpa kenal menyerah, tidak hanya sekedar bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga diri mereka yang merubah sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Nasib itu bukanlah sesuatu yang statis, kita adalah pelukis dari kehidupan kita masing -masing, bukan orang lain. Dan tentu saja tak ada hal yang terlepas dari kehendak Allah SWT, kita berusaha dan berdoa, sisanya serahkan kepada Yang Maha Berkehendak. Setiap detik adalah peluang untuk merubah nasib kita. Dua hari lagi esok adalah masa lalu, maka kita harus berpikir se-visioner mungkin. Terakhir, selamat menunggu nilai kuliah semester untuk yang sudah UAS, semoga kita mendapatkan nilai yang terbaik, sesuai dengan usaha yang telah kita lakukan. Untuk yang SP semoga diberikan keterbukaan pikiran dalam menyerap kuliah dan untuk yang liburan (termasuk saya) semoga diberikan petunjuk dan kekuatan untuk meng-agendakan acara - acara yang manfaat ketika liburan.

Read More

Kamis, 15 Januari 2009

10 Fakta Tentang Saya (PR sejuta umat)

Blogsphere di Indonesia sedang mengalami musim perlombaan memberikan Pekerjaan Rumah (PR) berupa 10 fakta tentang penulis blog tersebut, maka saya termasuk orang yang terkena imbasnya, saya mendapatkan amanah untuk menulis tentang perihal yang sama, berikut liputan khusus "10 Fakta Tentang Saya".
~ Saya mendapatkan PR ini dari salah seorang Blogger bernama Ecky


Fakta #1. Musik
Hidup saya diwarnai dengan lika - liku tentang musik. Setelah perjalanan panjang saya di dunia musik, maka saya menyimpulkan bahwa musik lebih berbahaya dibandingkan pedang bermata dua. Musik bisa menyihir seseorang menjadi kehilangan kepribadiannya dan mengikuti style atau gaya dari sang pemain musik tersebut, bahkan memaksa seseorang untuk mengikuti pemikiran tertentu.
Layaknya pedang, musik bisa menjadi hal yang baik atapun buruk, tergantung dari niat pembuat musik tersebut, bisa jadi menasihati pendengarnya, memabukan pendengarnya di dalam lautan cinta (yang sering kali cinta yang semu), mengirimkan pesan duka ataupun suka cita, menjadi sindiran bagi segolongan orang, menjadi penyemangat di tengah peperangan, bahkan menjadi gertakan bagi suatu kaum.
Saya seringkali berfikir untuk tidak hanya sekedar mendengarkan sebuah musik, tapi berusaha mencari arti dari penciptaan musik tersebut dan kebermanfaatannya bila saya mendengarnya. Walaupun pada kenyataannya seringkali saya terjebak di dalam kalimat "wah yang penting musiknya enak! gak penting artinya apa dech!". Bagi saya satu kata untuk musik "Waspadalah!" ~ dengan aksen bang Napi.

Fakta#2 Moody
Saya adalah orang yang tindakannya 30% berpeluang dipengaruh emosi (perhitungan dilakukan dengan feeling bukan dengan probabilitas terapan X_x), saya salut dengan orang yang tidak panik dan berfikir jernih di situasi terdesak. Bila Anda termasuk orang yang seperti itu, tolong ajari saya :D

Fakta#3 Malaysia - Indonesia Saudara kok berantem? Tanya Kenapa?
Sebuah fakta yang sampai saat ini masih membingungkan saya, saudara serumpun lagi se-iman, Malaysia dan Indonesia, kerap kali berantem, pertanyaannya bukanlah "siapa yang salah?", tetapi "kenapa harus saling menyalahkan?"
Malaysia terkenal sebagai bangsa yang rasis, hal inilah yang membuat orang Indonesia tidak menyukai orang Malaysia, jika ada orang Malaysia yang membaca postingan saya kali ini maka saya tegaskan, saya mewakili orang Indonesia dengan ini menyatakan "Yang dibenci oleh Indonesia bukanlah orang Malaysia melainkan sifat rasis yang dimiliki orang Malaysia."

Fakta#4 Senang banyak teman
Sudah jelas sekali dari judulnya, saya orang yang bekerja optimal di dalam team, tentu saja harus teman - teman yang bukan free rider atau yang cuman terima jadi (biasanya saya yang jadi free rider-nya :p). Ketahuilah, mencari seribu musuh lebih mudah daripada mencari satu orang teman.

Fakta#5 Anti-Zionist
Zionis bagi saya gak banget. Sebuah paham yang menurut saya akan membahayakan perdamaian dunia. Semoga cita - cita para zionis tidak pernah terwujud.

Fakta#6 Tidak suka hal bertele-tele
Saya adalah tipikal orang yang sedang belajar ber-basa-basi, walaupun di satu sisi saya tidak suka bertele - tele, namun ternyata di dunia ini membutuhkan basa-basi, layaknya pegangan gelas yang ada pada gelas, kenapa kita tidak langsung saja memegang gelasnya?! ~perumpamaan yang aneh. Intinya ternyata dalam membangun relasi / jaringan dibutuhkan skill basa-basi yang tinggi, teori ini masih dalam pembuktian, karena dari pengamatan mata saya, mayoritas orang yang supel dan jaringannya luas, selalu memulai pembicaraan lebih dulu daripada lawan bicaranya.

Fakta#7 Benci maling
Sekarang saya mengerti jika ada maling yang tertangkap seringkali digebukin warga, karena kehilangan sesuatu itu sangat tidak menyenangkan, apalagi penyebabnya diambil orang secara diam - diam. Dan terlebih lagi jika yang hilang adalah dompet, harus lapor ke polisi, mengurus KTP, KTM dan berbagai hal penting lainnya yang ada di dompet. Namun di satu sisi terkadang saya sering berpikir, apakah itu berarti kita semua cinta dunia?

Fakta#8 Membaca dan Menulis

Menulis adalah sesuatu yang sedang saya usahakan menjadi hobi saya, lebih tepatnya menulis di blog. Namun ternyata, hal ini membutuhkan hal lain sebagai minimum requirment atau prasyarat minimal (seperti kuliah saja), yaitu membaca, jadi saat ini juga saya sedang memaksa diri untuk hobi membaca.

Fakta#9 Orang IT

Tak bisa dipungkiri bahwa saya adalah warga negara Indonesia yang bergerak di bidang teknologi informasi, jadi jangan heran jika anak Fasilkom UI akan dihubungi oleh teman-teman lamanya jika hal - hal seperti berikut ini terjadi, komputer kena virus, komputer tidak berfungsi sebagaimana mestinya, pengen beli laptop / komputer yang bagus, baterai laptop ngadat dan sebagainya. Saya pernah mendengar pendapat beberapa orang bahwa sudah banyak orang yang bergerak di bidang IT, lalu mereka seringkali bertanya ke saya "Apa gak takut gak kebagian lahan?".
Sungguh cara berpikir yang sempit ~menurut saya. Rejeki itu Allah yang mengatur & saya yakin Allah SWT itu Maha Adil, yang terpenting kita sudah berusaha yang terbaik untuk kehidupan kita, masalah keputusan saya serahkan pada-Nya. Dan jika kita ingin melihat realita, Teknologi Informasi saat ini menjadi hal yang menjadi wajib ada di setiap disiplin ilmu, seperti arsitektur, kedokteran, sipil, pertanian dan lain-lain. Dengan kata lain, lahan kami (anak IT) berpotongan dengan seluruh himpunan ilmu di dunia artinya lahan kami nyaris tak terbatas, selama dunia butuh kemudahan, disitulah lahir sebuah teknologi untuk memudahkan. Itulah salah satu yang membuat saya bangga menjadi Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Fakta#10 Kesempatan kesekian
Saya selalu merasa, di setiap pagi ketika saya terbangun dari tidur, itu adalah kesempatan kesekian kalinya yang diberikan oleh Allah SWT untuk mengukir kehidupan saya lebih baik dari hari kemarin, karena sebenarnya dalam keadaan tidur, kita sama sekali tidak berkuasa atas tubuh kita. Sayangnya sangat banyak orang (termasuk saya) yang sering lupa untuk mensyukuri hal itu. Mudah - mudahan kita bisa merubah kebiasaan buruk kita, minimal kita membaca doa bangun tidur ketika baru bangun dari tidur.
Sekedar intermezzo, pernah terjadi di suatu hari saya hampir pergi ke alam lain dengan mudahnya. Semua itu terjadi saat saya terlambat ke kampus untuk ujian tengah semester, akibatnya saya pun mengendarai motor "agak" ngebut, salip kanan, salip kiri tanpa sadar melewati genangan lumpur. Ketika saya mau kembali menyalip angkot di depan saya dari kanan, terlihat ada angkot lain dari arah berlawanan, dan dua buah motor yang melaju bersama angkot tersebut, spontan saya mengerem motor dengan rem depan, akibatnya ban belakang slip, dan motor luar biasa tidak stabil, oleng kanan-kiri berulang-ulang, harapan hidup pun menipis, serasa boro - boro ikut UTS, mungkin langsung di interogasi sama malaikat abis kejadian ini.
Alhamdullillah, karena belum saatnya saya kembali kepada-Nya, motor bisa kembali saya kendalikan (~fiuhh) dan akhirnya bisa ikut UTS walaupun agak terlambat.
Untuk itu jangan pernah berhenti mensyukuri nikmat yang Dia berikan pada kita, jangan sampai kita mesti ditegur terlebih dahulu agar mau bersyukur.


Akhir kata, rantai blogsphere ini harus saya teruskan, maka saya akan memberikan Pe-Er yang sama kebeberapa blogger antara lain,
Mudah-mudahan PR-nya dikerjakan.

Read More

Saya?!

Foto saya
Dipanggil Fajar. Sampai saat ini masih yakin terlahir untuk menjadi pemenang, walaupun saat ini saya masih amat jauh dari pribadi dan pengetahuan seorang pemenang. Saya harus terus belajar hingga benar - benar menjadi pemenang di dunia dan di akhirat bersama pemenang-pemenang lainnya. Alhamdulillah saat ini saya telah lulus dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Cita - cita : Menjadi seorang pemilik perusahaan IT Indonesia yang disegani di seluruh dunia, dan menjadi orang super kaya sehingga mampu membantu sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia! Hal ini tak akan bisa terwujud tanpa doa, dukungan dan kerja keras. Untuk itu mohon doanya juga dari para pembaca :D

Fajar's Personality

Click to view my Personality Profile page